OBATGeneric

OBATGeneric adalah blog yang berisi informasi obat, artikel kesehatan sekitar ulasan seputar obat dan artikel umum,

Wednesday, 5 April 2017

Mengenal Pemeriksaan Occupational Audiometry

Occupational Audiometry adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat atau ambang batas pendengaran seseorang dan jenis gangguannya bila ada. Pemeriksaan dilakukan dengan memakai alat audiogram nada murni di dalam ruang kedap suara. Prinsip pemeriksaannya adalah bermacam-macam frekuensi dan intensitas suara (dB) ditransfer melalui headset atau bone conducter ke telinga atau mastoid dan batasan intensitas suara (dB) pasien yang tidak dapat didengar lagi dicatat, melalui program  komputer atau diplot secara manual pada kertas grafik.

Kegunaan audiometric adalah untuk mengetahui derajat ketulian ringan, sedang, atau berat. Dan untuk mengetahui jenis tuli konduktif, tuli syaraf (sensorineural) atau tuli campuran. Biasanya pemeriksaan ini ditujukan pada karyawan yang lingkungan kerjanya terpajan kebisingan (misal dari bising mesin industri).

Syarat pemeriksaan occupational audiometry adalah pasien dianjurkan bebas pajanan bising minimal 12—14 jam sebelum pemeriksaan. Misal tidak berada diruangan bising, atau mendengar musik dengan volume tinggi. Dan bebas kotoran telinga.

Berapa banyak pekerja yang mengalami tuli akibat kebisingan di tempat kerja?
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) tahun 2004 diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja di negara industri terpapar bising melebihi 90 dB di tempat kerjanya. Lebih dari 30 juta orang di Amerika terpapar bising 85 Db atau lebih (NIOSH, 1998).  Pada pertemuan konsultasi WHO-SEARO Intercountry meeting 2002, menyebutkan bahwa kebisingan merupakan salah satu yang menjadi masalah utama dalam penyebab terjadinya gangguan pendengaran di Indonesia. Dan gangguan pendengaran akibat bising lingkungan kerja menduduki proporsi terbanyak dibandingkan gangguan akibat bising lainnya. Di Indonesia prevalensi ketulian sekitar 4,6 % atau sebanyak 16 juta orang dan gangguan pendengaran sekitar 16,8% dari jumlah penduduk Indonesia. Pada penelitian yang dilakukan oleh Susanto (2012) pada tenaga kerja PLTD KA Samarinda ditemukan bahwa 26 tenaga kerja (76,5%) tenaga kerja mengalami gangguan pendengaran, dari total tenaga kerja sebanyak 34 orang.

Gangguan pendengaran akibat bising lingkungan kerja (Occupational NIHL) diakibatkan karena paparan bising dengan paparan yang kontinu atau intermiten dan biasanya berkembang dalam waktu lama/beberapa tahun. Hal ini berbeda dengan trauma akustik akibat kerja yang terkena paparan bising seketika seperti bising karena ledakan.

Upaya pencegahan terjadinya NIHL adalah dengan program konservasi pendengaran. Yang salah satunya adalah rutin evaluasi pendengaran dengan menggunakan audiometri.

Demikian ulasan Mengenal Pemeriksaan Occupational Audiometry yang ditulis oleh dr. Andrian Purwo Sulistyo ( dokter umum sekaligus sebagai dokter kesehatan kerja / occupational health doctor)

Sumber : amaliamedicalcenter.com/prod/audiometri, 2015. Penelitian Iwan M. Ramdan di PLTD Samarinda 2014. Occupational NIHL ACOEM 2012

0 Komentar Mengenal Pemeriksaan Occupational Audiometry

Post a Comment

Back To Top